Home » Bisnis » Menguber Kontraktor Kubah Masjid Enamel di Kabupaten Bangkalan

Menguber Kontraktor Kubah Masjid Enamel di Kabupaten Bangkalan

Menguber Kontraktor Kubah Masjid Enamel di Kabupaten Bangkalan

Manusia tentulah pasti akan berkembang dari yang dulu masih anak anak kecil hingga tumbuh menjadi orang dewasa. Tahapan tahapan yang dilalui oleh manusia umumnya mulai dari anak anak, remaja, dewasa, lanjut usia. Masa anak anak merupakan masa masa awal sekolah yang dimulai dari taman kanan kanan dan dilanjutkan ke jenjang sekolah dasar (SD).
Masa Sekolah Menengah Atas (SMA) beberapa orang yang katakan yaitu eranya pubertas pertama serta oleh karena itu disebutkan anak saat masuk pada tataran pendidikan itu juga akan disebutkan anak baru gede (abg) usianya juga masih tetap belasan, dengan rataan umur baru memijak 16 tahunan. Hingga angka ini mendekati bila saat ini itu bahasanya ada sweet seven teen atau masa masa di umur tujuh belas th.. Di mana, umur ini yaitu eranya anak muda mulai berkembang kembang rasa kasih serta sayang rasa menginginkan mempunyai serta dipunyai, terlebih pada saat ini yaitu eranya anak mencari perhatian pada lawan macamnya. Hingga pada th. tahun umur ini juga akan banyak masalah penyelewengan pada anak, dari mulai sukai bolos sekolah, coba minuman mengandung alkohol, sampai coba tidak mematuhi larangan orangtua umpamanya cuma untuk memperoleh perhatian pada orang yang lain terutama lawan macamnya.

Bercerita umur itu yaitu teringat mengenai narasi di mana saya masih tetap begitu lugu dengan sukanya saat istirahat cuma pergi ke Kontraktor Kubah Masjid Enamel tidak mau yang beda seperti rekan yang lain yang umumnya mengambil saat untuk ketemu atau tunjukkan suatu hal pada idola hatinya. itu tidak berlakuk denganku di usiaku yang baru 16 th. ini. terkecuali di Kontraktor Kubah Masjid Enamel mungkin saja saya pilih pergi bermain futsal yang mana memanglah olah raga kesukaanku, serta diwaktu kecilku saya begitu menginginkan jadi pemain sepakbola professional. Bahkan juga hasratku ini saya rasa tidak main main, saya senantiasa berlatih sehari-hari dengan melindungi fisikku yaitu dengan lari lari dari Kontraktor Kubah Masjid Enamel di desaku ke alun alun bangkalan Jawa Timur. Bukan sekedar itu, tiap-tiap habis solat dalam doaku senantiasa terlantunkan ucapan menginginkan sekali jadi pemain sepakbola serta mengharapkan doa itu dapat terkabulkan.

Juga pernah satu masa di mana di Kontraktor Kubah Masjid Enamel itu telah dipenuhi oleh orang banyak, saya mesti mencari tempat beda karna saat itu saatnya salat jumat karna telah penuh sangat terpaksa saya sala di pinggir Kontraktor Kubah Masjid Enamel yang malah mengahadapnya bukanlah kea rah kiblat. Namun ingin bagaimana sekali lagi telah kepalang tanggung untuk salat jumat dari pada tidak salat demikian batinku. Melingkupi semuanya yang ada jadi, pada saat di umur 17 tahunan tersebut saya mulai lakukan beberapa hal hilang ingatan dengan kawan kawanku, karna saat itu belumlah ada lampu yang menyinari kampungku, saya mesti berlarian mencari kawanku untuk bermain petak umpet. Tiap-tiap malam hari memanglah senantiasa kita agendakan untuk bermain petak umpet, sembari nikmati indahnya malam hari di bawah sinarnya rembulan serta pernak pernik kerlip beberapa ribu bintang diatas sana, mungkin saja semua juga akan selesai namun tak tahu karna tulisan ini masih tetap sangat panjang bila untuk menuliskan kisa kisahku dimasa abg atau pubertasku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *